Sejarah Keraton Mandilaras Pamekasan

Masjid Jamik
Setelah pangeran Lendhu wafat, hampir seluruh rakyat pamekasan sudah memeluk islam, kemudian Pangeran Ronggosukowati naik tahta pada tahun 1530. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, beliau merekontruksi kota pamekasan hingga setaraf dengan kota-kota yang lain, hasil karyanya yaitu:
1.  Keraton Mandilaras dan gedung Pemerintahan, sejak pemerintahan Pangeran Ronggosukowati inilah terbentuknya suatu pemerintahan yang terorganisir, tertib dan teratur.
2.      Masjid jamik sebagai tempat peribadatan.
3.     Tangsi (asrama) Prajurit di sebelah timur keraton, sebagai tempat pendidikan para pemuda dan calon prajurit yang tangguh.
4.      Rumah Penjara yang tempatnya agak jauh dari keraton.
5.      Jalan silang di tengah-tengah kota Pamekasan, dan di sebelah timurnya ada kebun Raja.
6.      Makam umum yang berada sebelah utara agak jauh di belakang keraton.
7.      Kolam ikan yang diberi nama Si Ko’ol.
Dengan adanya keraton Mandilaras tersebut Pamekasan menjadi semakin mashur, banyak masyarakat yang mengagung-agungkan keindahan ndan kemegahannya,
Selain itu Pangeran Ronggosukowati memiliki keris yang sangat ampuh, yang konon menurut salah satu sumber lisan menyebutkan bahwa keris tersebut merupakan pemberian dari mahluk ghaib (sebangsa jin), dalam sebuah riwayat bahwa Pangeran Ronggosukowati selama tujuh hari kedatangan pemuda yang membawa bagian-bagian keris, pemuda tersebut tidak mau menyebutkan nama dan tempat asalnya, setelah pemuda tersebut selesai memberikian bagian keris kepada Pangeran, pemuda tersebut langsung menghilang.
Setelah bagian keris tersebut terkumpul, Pangeran Ronggo sukowati memanggil seorang empu keris yang tersohor untuk merakit bagian-bagian keris itu, setelah selesai terbentuklah sebilah keris yang berpamor “tunggal kukus” yang di beri nama keris “Joko Piturun”.
Menurut keteran salah seorang juru kunci pemakaman ronggosukowati, bapak H. Tahir menyebutkan, bahwa keris itu terbang mendatangi makam panembahan Ronggosukowati pada malam hari  tiap waktu tertentu kembali ketika henda fajar. Menurutnya, bahwa dahulu keraton dari bangkalan berniat untuk menjajah kota pamekasan, dalam artian keraton bangkalan ingin mengambil keris Joko Piturun yang merupakan paku bumi Pamekasan, Akan tetapi tidak berhasil. Sehingga menyebabkan pangeran Lemah Duwur meninggal.
Menurut keterangan lain, wafatnya pangeran Lemah Duwur dikarenakan kesalah fahaman dengan Pangeran Ronggosukowati.
ketika Pangeran Lemah Duwur pergi berkunjung ke keraton mandilaras, di sana beliau dan pengikutnya di sambut dengan sangat baik, Pangeran Lemah Duwur yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Pangeran Ronggosukowati. Pergi berkeliling keraton untuk melihat kemegahan keraton mandilaras.
Setelah agak lama berada di Pamekasan, karena perjalan kembali cukup jauh, maka keluarga Keraton mempersilahkan rombongan Pangeran Lemah Duwur untuk bermalam di pamekasan, Pangeran Ronggosukowati mempersilahkan rombongan tersebut beristirahat di pesanggrahan yang letaknya tidak jauh dari kolam si Ko’ol.
Karena hanya kolam itu yang belum di lihat oleh Pangeran Lemah Duwur, kemudian ia mengajak rombongannya untuk melihat kolam itu tanpa sepengetahuan Pangeran Ronggosukowati karena beliau masih ada dalam keraton,
Sesampainya di kolam tersebut beliau meminta izin kepada penjaganya untuk masuk melihat-lihat, akan tetapi penjaganya tidak memperbolehkan masuk tanpa izin dari Pangeran Ronggosukowati.
Kemudian penjaganya tersebut pergi menemui Pangeran Ronggosukowati yang ada di keraton untuk meminta izin, tapi Pangeran masih tertidur, sehingga penjaganya merasa sungkan untuk membangunkannya, karena menunggu sangat lama, Pangeran Lemah Duwur merasa bahwa Pangeran Ronggosukowati tidak mengizunkannya untuk masuk ke kolanm itu, akhirnya rombongan tersebut pulang tanpa sepengatuhan Pangeran Ronggosukowati.
Pangeran Ronggosukowati marah dan kecewa langsung menghunuskan kerisnya karena merasa hal itu merupakan suatu penghinaan, kemudian Pangeran Ronggosukowati segera bergegas menyusulnya, di tengah perjalan Pangeran Ronggosukowati bertemu dengan adiknya yang menjadi adipati sampang. beliau memberitahukan maksudnya kepada adipati Madegan, kemudian adipati tersebut menyarankan agar Pangeran Ronggosukowati mengurungkan niatnya dan beristihahat di Madegan.
Karena ia menuruti nasehat adiknya, Beliau hanya menusukkan kerisnya pada pohon waru seraya mengatakan, “ wahai pohon waru, sebenarnya aku tidak bermaksud membunuhmu, akan tepapi dengan keris sakti Joko Piturun ini kubunuh Pangeran Lemah Duwur.
Pada malam itu juga Pangeran Lemah Duwur bermimpi kejatuhan keris Ronggosukowati yang menancap di punggungnya, ajaib sekali ketia bangun, badannya terasa panas yang di sebabkan oleh bisul kecil di punggungnya, bisul itu semakin lama semakin memerah dan membesar, keesokan harinya di seluruh madura tersia bahwa Pangeran Lemah Duwur telah wafat.
Mendengar hal itu Pangeran Ronggosukowati merasa mesnyesal dan membuang keris saktinya ke kolam Si Ko’ol, setelah keris itu menyentuh air, terdengar suara ghaib “Pangeran Ronggosukowati, sayang engkau membuangku, kalau tidak, pasti pulau jawa akan berada di bawa kekuasaanmu,”
Kemudian pangeran menyuruh semua orang untuk mencari keris itu, akan tetapi keris itu hingga sekarang belum di temukan. 
 
Terimakasih Sudah Membaca Artikel  Sejarah Keraton Mandilaras Pamekasan  Semoga bermanfaat
Sumber: panoramabudayamadura.blogspot.com
Sejarah Keraton Mandilaras Pamekasan Sejarah Keraton Mandilaras Pamekasan Reviewed by Kang Kabayan on 6/04/2013 Rating: 5

1 comment:

  1. this is really too useful and have more ideas from yours. keep sharing many techniques. eagerly waiting for your new blog and useful information. keep doing more.
    Java Training in Chennai

    ReplyDelete

**** HARAP KOMENTAR DENGAN BAHASA INDONESIA YANG BAKU TANPA SINGKATAN.
*** Jangan berkomentar SPAM (promosi, dll,)
*** Jangan komentar yang berisi link aktif, jika ingin komentar anda di respon
*** Jangan berkomentar yang tidak relevan dan berkualitas rendah
*** Menggunakan Name/URL agar mudah untuk blogwalking

Teknologi. Powered by Blogger.